Etos Kerja Bangsa Jepang

Masing-masing negara memiliki ciri khas dan keunikan masing-masing. Jika kita membayangkan negara Jepang maka kebanyakan orang pasti langsung mengaitkan dengan etos kerja dan disiplin yang tinggi. Coba Fresher cek beberapa kebiasaan bangsa Jepang dalam dunia kerja berikut yang bisa jadi inspirasi kamu.

Prinsip Bushido
Prinsip tentang semangat kerja keras yang diwariskan secara turun- menurun. 
Semangat ini melahirkan proses belajar yang tak kenal lelah. Awalnya semangat ini dipelajari Jepang 
daribarat. Tapi kini baratlah yang terpukau dan harus belajar dari Jepang.

Prinsip Disiplin Samurai
Prinsip yang mengajarkan tidak mudah menyerah. Para samurai akan melakukan harakiri (bunuh diri) dengan menusukkan pedang ke perut jika kalah bertarung. Hal ini memperlihatkan usaha mereka untuk menebus hargadiri yang hilang akibat kalah perang. 
Kini semangat samurai masih tertanam kuat dalam sanubari bangsa Jepang, namun digunakan untuk membangun ekonomi, menjaga harga diri, dan kehormatan bangsa secara teguh. Semangat ini telah menciptakan bangsa 
Jepang menjadi bangsa yang tak mudah menyerah karena sumber daya alamnya yang minim juga tak menyerah 
pada berbagai bencana alam, terutama gempa dan tsunami.

Konsep Budaya Keishan
Perubahan secara berkesinambungan dalam budaya kerja. Caranya harus selalu kreatif, inovatif, 
dan produktif. Konsep Keisan menuntut kerajinan, kesungguhan, minat dan keyakinan, 
hingga akhirnya timbul kemauan untuk selalu belajar dari orang lain.

Prinsip Kai Zen
Mendorong bangsa Jepang memiliki komitmen tinggi pada pekerjaan. 
Setiap pekerjaan perlu dilaksanakan dandiselesaikan sesuai jadwal agar tidak menimbulkan pemborosan. 
Jika tak mengikuti jadwal, maka penyelesaian pekerjaan akan lambat dan menimbulkan kerugian. 
Oleh karena itu, perusahaan di Jepang menerapkan peraturan “tepat waktu”. 
nilah inti prinsip Kai Zen: optimal biaya dan waktu dalam menghasilkan produk yang berkualitas tinggi.

Perusahaan untung besar, saya juga akan untung
Disiplin dan semangat kerja inilah yang membentuk sikap dan mental kerja yang positif. 
Disiplin juga menjadikan para pekerja patuh dan loyal pada perusahaan atau tempat mereka bekerja. 
Mereka mau melakukan apa saja demi keberhasilan perusahaan tempat mereka bekerja, 
bahkan hebatnya mereka sanggup bekerja lembur tanpa mengharapkan bayaran tambahan. 
Karena mereka beranggapan jika hasil produksi meningkat dan perusahaan mendapat keuntungan besar, 
secaraotomatis mereka akan mendapatkan kompensasi setimpal. 
Dalam pikiran dan jiwa mereka sudah tertanam keinginan melakukan pekerjaan sebaik mungkin. 
Gagal melakukan tugas sama halnya mempermalukan diri sendiri, bahkan harga diri mereka merasa hilang.

Malu, kalau pulang lebih cepat
Mereka yang pulang lebih cepat dianggap sebagai pekerja yang tidak penting dan tidak produktif.  
Ukuran nilai dan status orang Jepang didasarkan pada disiplin kerja dan jumlah waktu yang 
dihabiskan di tempat kerja. Kecintaan orang Jepang pada pekerjaannya, membuat mereka fokus 
pada pekerjaannya. Tanpa ada pengawas pun mereka bekerja dengan baik, penuh dedikasi, dan disiplin.

Kerja ya kerja, istirahat betul-betul istirahat
Ketika jam 8 pagi masuk kerja, tak ada lagi obrolan dan canda, 
mereka langsung bekerja di komputer masing-masing atau sibuk langsung di depan workstation masing-masing. Baru ketika tiba saatnya hiru gohan no jikan (makan siang) 
mereka hentikan aktivitas masing-masing dan bercanda ria dengan teman-teman sambil menuju shokudo (kantin).

Tidur 30 menit, di waktu jam istirahat
60 menit jam makan siang, rata-rata dibagi 30 menit untuk urusan makan siang, 30 menit untuk tidur sejenak, 
guna memulihkan energi lagi. Mereka akan sisihkan waktu untuk 
tidur sambil merebahkan kepala di meja kerja masing-masing. Re-charge energi.

Disiplin soal kecil-kecil
* Sampah yang jatuh di area kerja, harus dipungut dengan tangan kosong (sude), 
tidak boleh memakai alat.
* Jika menemukan puntung rokok atau permen karet, Anda harus segera pungut, 
tidak peduli siapa yang membuangnya, Anda tidak boleh pura-pura seolah tidak melihatnya.

Bagaimana menurut kamu Fresher? Tak ada salahnya melihat dan meniru kebiasaan orang dan bangsa lain bukan? 
Terlebih jika hal tersebut bisa semakin meningkatkan kualitas hidup diri kita.

Previous PostNext Post

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WordPress Theme