Etika Berbicara Kepada Anak

Etika Berbicara Kepada Anak, Rancang bangun seorang anak ditentukan oleh orangtua sebagai arsiteknya. Orangtua akan sangat berperan penuh dalam menemani anak mengoptimalkan kecerdasan. Kelekatan orang tua dan anak menjadi sebuah moment sangat berharga yang membuat anak suatu saat hanya akan berkiblat pada kebaikan kedua orangtuanya. Orang tua dapat memulai dengan cara yang sederhana dalam menemani anak tapi akan sangat berdampak signifikan yaitu dengan mengajak berbicara anak setiap hari untuk membangun kedekatan. Berikut ini adalah tip dan trik etika berbicara kepada anak oleh Retno Hening yang dapat membantu orang tua untuk membangun rasa nyaman anak dan merangsang segala kecerdasan anak (kognitif, afektif, spiritual dan bahasa) diantaranya adalah:

1. Fokus kepada anak. Usahakan untuk menatapnya dan terlihat semangat. Letakkan ponsel atau apapun yang membuat orang tua tidak fokus pada anak. Hadirlah untuk anak sebagai teman bicara.

2. Dengarkan anak ketika menyampaikan sesuatu atau ketika mencoba berbicara. Tanggapi dengan pernyataan atau pertanyaan untuk memperjelas maksudnya. Contohnya ketika anak menunjuk gambar kupu-kupu dengan mengatakan “pupu”, maka orang tua segera merespon dengan memahami maksudnya untuk menanyakan, “Oh kupu-kupu. Cantik ya, Nak. Warna kuning, ya. Terbang kemana, ya, dia? Mungkin mau main sama temennya, ya.”

3. Bicarakan sesuatu yang sedang terjadi atau yang sedang dilakukan. Contoh ketika sedang bermain puzzle binatang, maka ceritakan tentang puzzle itu seperti gambarnya, bentuknya dan warnanya.

4. Tanggapi anak dengan serius. Contohnya ketika anak sedang bermain dan mencoba berkomunikasi dengan orang tua terkait apa aktivitasnya saat itu. Misal, anak mencoba mlibatkan peran kita sebagai orang tua dengan mengatakan, “Lihat Ibu, ini nasi goreng.” Lalu orang tua menanggapi dengan serius seperti memberi umpan balik, “Oh… iya? Nasi goreng ya? Enak nggak, ya? Ibu boleh coba? Hmm… nyamm…mau lagi, Nak, tapi jangan pedes ya.” Dengan begitu anak akan bersemangat membangun komunikasi yang lebih intens dengan orangtuanya karena anak tahu bahwa ia ditanggapi dengan baik.

5. Berekspresi ketika berbicara kepada anak sesuai emosi yang akan disampaikan. Misalnya, ketika melihat orang bekerja di luar ruangan di bawah terik matahari, katakan padanya dengan ekspresi sedih. “Nak, lihat itu om nya, kasihan ya, kerja siang-siang, panas-panas.” Begitu juga tunjukkan ekspresi riang ketika melihat sesuatu yang menyenangkan. Dengan begitu, orang tua juga mengajari rasa empati dan mengenal berbagai emosi.

To be continued

*Diolah dari berbagai sumber

Previous PostNext Post

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WordPress Theme